JAKARTA - Isu geopolitik kembali menjadi faktor dominan yang mengguncang pasar energi internasional setelah muncul pernyataan penting dari pemerintah Amerika Serikat. Ketidakpastian arah kebijakan luar negeri langsung diterjemahkan pelaku pasar sebagai sinyal risiko terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan memutuskan apakah akan melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu 10 hari ke depan. Pernyataan ini segera memicu reaksi cepat di pasar komoditas energi yang sensitif terhadap potensi konflik kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Kamis waktu setempat dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang ia bentuk. Forum itu menjadi panggung awal bagi sinyal kebijakan yang bernuansa strategis sekaligus penuh ketidakpastian.
“Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin juga tidak,” ujar Trump dikutip pada Jumat, 20 Februari 2026. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa opsi militer masih berada dalam spektrum kebijakan yang sedang dipertimbangkan.
“Mungkin kami akan mencapai kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 10 hari ke depan,” tambah dia. Pernyataan itu sekaligus membuka kemungkinan jalur diplomasi tetap berjalan di tengah meningkatnya tekanan politik.
Ia mengisyaratkan masih terbuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran, meskipun opsi militer tetap dipertimbangkan. Ambiguitas inilah yang justru memperbesar ketidakpastian di mata investor global.
Pasar Minyak Bereaksi Cepat terhadap Risiko Eskalasi Konflik
Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global yang selama ini sangat responsif terhadap isu keamanan di Timur Tengah. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat produksi dan jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Harga minyak mentah Amerika Serikat naik USD 1,24 atau 1,9 persen menjadi USD 66,43 per barel. Sementara itu, harga minyak acuan dunia Brent menguat USD 1,31 atau 1,86 persen ke level USD 71,66 per barel.
Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor cenderung mengantisipasi risiko gangguan pasokan bahkan sebelum konflik benar-benar terjadi.
Reaksi pasar menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penggerak utama volatilitas harga energi selain permintaan dan produksi. Ketika muncul ancaman militer, pelaku pasar segera memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak.
Harga minyak terus bergerak naik sepanjang pekan karena kekhawatiran serangan Amerika Serikat terhadap Iran semakin meningkat. Minyak mentah WTI tercatat naik lebih dari 5 persen dalam sepekan dan hampir 16 persen sejak awal tahun.
Lonjakan tersebut memperlihatkan bagaimana persepsi risiko dapat mendorong reli harga bahkan tanpa perubahan fundamental pasokan secara langsung. Pasar energi pada dasarnya bergerak berdasarkan ekspektasi masa depan, bukan hanya kondisi saat ini.
Negosiasi Nuklir Berlangsung di Tengah Ancaman Militer
Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi sebenarnya masih berlangsung melalui pembicaraan terkait program nuklir Iran. Upaya ini menjadi bagian dari strategi ganda yang mengombinasikan tekanan politik dengan negosiasi.
Trump mengakui bahwa menjalin kesepakatan dengan Iran bukan perkara mudah. “Selama bertahun-tahun terbukti tidak mudah membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran,” kata Trump.
“Kita harus membuat kesepakatan yang bermakna, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah Amerika Serikat menilai hasil negosiasi harus konkret dan tidak bersifat simbolis.
Pekan ini, utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner menggelar pembicaraan dengan Iran terkait program nuklir di Jenewa, Swiss. Dialog tersebut menjadi salah satu jalur komunikasi penting untuk meredakan ketegangan yang meningkat.
Namun, Wakil Presiden JD Vance menyatakan Iran belum memenuhi batasan-batasan yang ditetapkan Trump dalam perundingan tersebut. Penilaian ini menunjukkan masih adanya jarak signifikan antara posisi kedua negara.
Sementara itu, Gedung Putih menilai masih banyak alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut menambah tekanan psikologis di pasar global yang terus memantau perkembangan situasi.
Peningkatan Aktivitas Militer Memperbesar Kekhawatiran Gangguan Pasokan Energi
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan terdapat “banyak alasan dan argumen” untuk melakukan serangan terhadap Iran. Meski demikian, ia menyebut ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan di Jenewa.
Menurutnya, posisi Amerika Serikat dan Iran masih sangat berbeda dalam sejumlah isu penting yang belum menemukan titik temu. Perbedaan tersebut membuat kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat menjadi tidak pasti.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga dilaporkan tengah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kesiapsiagaan strategis sekaligus sinyal tekanan terhadap Iran.
Kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di wilayah tersebut, sementara kapal induk kedua, USS Gerald Ford, sedang dalam perjalanan. Penambahan kekuatan militer ini meningkatkan spekulasi bahwa konflik dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz pekan ini. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa ketegangan tidak hanya berlangsung di meja diplomasi tetapi juga di lapangan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia yang dilalui sebagian besar distribusi energi dari kawasan Teluk. Setiap potensi gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung terhadap rantai pasok global.
Para pelaku pasar khawatir konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dapat mengganggu arus distribusi minyak melalui selat tersebut. Jika terjadi gangguan, pasokan energi global berpotensi terganggu dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan karena sejarah menunjukkan bahwa kawasan tersebut sangat rentan terhadap ketegangan geopolitik. Bahkan gangguan kecil saja dapat menciptakan lonjakan harga yang signifikan di pasar internasional.
Situasi ini membuat pelaku industri energi, investor, dan pemerintah di berbagai negara terus memantau perkembangan secara intensif. Stabilitas pasokan minyak menjadi faktor krusial bagi keberlanjutan ekonomi global di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Dengan latar belakang tersebut, keputusan yang akan diambil dalam beberapa hari ke depan dipandang memiliki konsekuensi besar terhadap arah pasar energi dunia. Dunia kini menunggu apakah jalur diplomasi akan meredakan ketegangan atau justru membuka fase baru konflik geopolitik.